BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Bioradasi adalah
ilmu yang mempelajari radiasi dalam tubuh makhluk hidup. Bagi masyarakat awam, kata radiasi
selalu dihubungkan dengan bom atom, kecelakaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
(PLTN), limbah radioaktif, serta penyebab timbulnya penyakit kanker. Mereka
juga cenderung merasa cemas dan takut terhadap radiasi, tetapi tidak ingin
memahami radiasi secara obyektif. Pendapat sebagian besar masyarakat tentang
radiasi didasarkan pada bahaya radiasi yang berasal dari ledakan bom atom, missal
yang terjadi di Nagasaki dan Hiroshima, atau kecelakaan nuklir di PLTN
Chernobyl. Seringkali mereka tidak dapat membedakan antara bahaya radiasi
akibat kecelakaan tersebut dengan radiasi yang mereka peroleh dalam kegiatan
sehari-hari, misalnya radiasi yang berasal dari pemeriksaan kesehatan atau
radiasi yang berasal dari lingkungan. Tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman mengenai radiasi yang ada pada manusia. Selain itu diharapkan juga
dapat membantu dalam mengambil keputusan bila dihadapkan pada pilihan
memperoleh paparan radiasi pada tubuh untuk keperluan medis, misalnya
"di-roentgen" pada dada atau gigi. Perlu kita sadari bahwa tidak ada
satupun aktivitas manusia yang benar-benar aman. Pemanfaatan radiasi juga
mengandung risiko, seperti halnya aktivitas sehari-hari manusia, misalnya
mengendarai mobil, naik tangga atau bahkan mandi. Tidak seorangpun di dunia ini
yang tidak pernah terkena radiasi. Karena itu, amat penting bagi kita untuk
mendapatkan informasi tentang radiasi dan efeknya pada manusia.
B.
Rumusan
Masalah
Bagaimana
konsep fisika atom dan radiasi dalam bioradiasi?
Bagaimana
konsep sinar-sinar dalam radioaktif serta radioaktivitas?
Bagaimana
konsep ionisasi dan apa saja jenis radiasi serta energinya?
Bagaimanakah
keuntungan dan kerugian radiasi dalam kehidupan kehidupan?
Bagaimana
cara memproteksi diri dari dampak negative radiasi?
Bagaimana
mekanisme kerja dari radioterapi?
C.
Tujuan
Penulisan
Menjelaskan
konsep fisika atom dan radiasi dalam bioradiasi Menjelaskan manfaat dari
bioradiasi
Menjelaskan
konsep sinar-sinar dalam radioaktif serta radioaktivitas
Menjelaskan
konsep ionisasi dan apa saja jenis radiasi serta energinya
Menjelaskan
keuntungan dan kerugian radiasi dalam kehidupan kehidupan
Menjelaskan
cara memproteksi diri dari dampak negative radiasi
Menjelaskan
mekanisme kerja dari radioterapi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Fisika
Atom Dan Radiasi
1.
Model
Atom
a. J.J
Thomson
Atom bagaikan
sebuah bola yang mengandung muatan positif tersebar secara merata di seluruh
volume bola. Elektron-elektron yang bermuatan negatif berkeliaran di dalam bola
yang bermuatan positif. Model atom ini ternyata kurang berhasil menerangkan
fakta-fakta eksperimen hamburan.
Gambar 1. Model atom Thompson
b. Ernest
Rutherford
Melukiskan
tentang struktur atom bahwa bagian luar suatu atom dibatasi oleh elektron
sedangkan bagian tengah terdapat inti bermuatan positif. Hal ini dapat
dibuktikan dengan penembakan lempengan logam dengan sinar radioaktif zat
polonium, tampak adanya peristiwa hamburan.
Oleh
karena elektron bermuatan negatif sedangkan inti bermuatan positif maka
terdapat gaya tarik coulomb antara inti dan elektron.
Gambar 2. Model atom rutherford
c. Niels
Bohr
Model atom Niels
Bohr sama dengan yang dilukiskan Rutherford, hanya saja berbeda dalam hal
gerakan dan lintasan elektron.
Dikatakan
bahwa:
1) Elektron
dalam geraknya mengelilingi inti hanya mungkin apabila memiliki momentum sudut
sebesar:
Gambar 3. Model atom bohr
2) Eektron-elektron
bergerak dalam lintasan stasioner tanpa memancarkan energi.
3) Elektron
dapat pindah dari lintasan satu ke lintasan lain sambil memancarkan atau
menyerap energi berupa gelombang elektromagnetik sebesar:
2.
Bagian
Atom dan Inti Atom
Atom
tersusun dari electron, dan inti atom. Di dalam inti, terbagi lagi menjadi
proton dan neutron. Misalkan elektron, proton dan neutron digambarkan sebagai
berikut:
Gambar 4. Bagian penyusun atom
Maka konfigurasi atom-atom dapat
digambarkan seperti tertera di bawah ini:
Gambar 5. Contoh konfigurasi atom
Jumlah proton dalam inti atom
menentukan nomor atom atau letak atom dalam sistem berkala unsur-unsur. Jumlah
proton dan neutron dalam inti atom menentukan berat atom.
Suatu
jenis atom ditentukan oleh jumlah proton atau elektron (Z). Ada kalanya satu
jenis atom mempunyai jumlah neutron N yang berbeda. Inti atom dengan
proton/elektron (Z) yang sama tetapi N yang berbeda disebut Isotop dari atom
yang bersangkutan.
Contoh:
Atom hidrogen (1H1) mempunyai isotop deuterium (1H2)
dan tritium (1H3), atom carbon mempunyai isotop 6C12
dan 6C14.
Atom-atom dengan jumlah nukleus
yang sama disebut Isobar, misalnya 1H3 dengan 2H3.
Atom-atom dengan jumlah Neutron
yang sama disebut Isotone, misalnya 1H3 dengan 2He3.
3. Garis Kestabilan Inti Atom
|
Gambar 6. Grafik kestabilan inti atom
|
Bila jumlah proton
dalam sebuah inti terus meningkat, maka pada suatu titik keseimbangan gaya
elektrostatis dan gaya inti tidak dapat dipertahankan lagi sekalipun jumlah
netron terus meningkat. Inti stabil dengan jumlah proton paling banyak adalah
(Z = 83, dan N = 126). Semua inti atom dengan Z > 83 akan akan berada dalam
keadaan tidak stabil atau akan bersifat radioaktif.
4.
Muatan
Listrik dan Massa Bagian-bagian Atom
Muatan
elektron = 4,8 x 10-8 satuan elektron statis.
Massa
1 elektron = 0,0005 satuan massa atom = 9,1 x 10-28 gram.
Muatan
1 proton = muatan 1 elektron.
Massa 1 proton = 1
satuan massa atom = 1,67 x 10-24 gram = 1.836 x massa 1 elektron.
Muatan 1 neutron = 0
Massa 1 neutron = massa
1 proton.
5.
Radiasi
Pengertian Radiasi Dalam fisika,
radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi bergerak melalui media
atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain. Becquerel,
pada tahun 1896 menemukan senyawa Uranium yang memancarkan sinar tak tampak
yang dapat menembus bahan yang tidak tembus cahaya serta mempengaruhi emulsi
fotografi. Pada tahun 1896 Marie Curie menunjukkan bahwa inti uranium dan
banyak unsur lain bersifat memancarkan salah satu partikel alfa, beta atau
gamma. Unsur inti atom yang mempunyai sifat memancarkan sinar-sinar tersebut
disebut inti radioaktif.
6. Inti dan Radioaktivitas
Rutherford menunjukkan bahwa muatan
positif atom terkumpul pada suatu tempat di pusat atom yang disebut inti.
Apabila inti dianggap terdiri dari proton saja terdapat ketidak cocokan dengan
berat atom, oleh karena berat atom akan menjadi kira-kira setengah dari berat
atom yang diamati.
Chadwik (1932) menemukan neutron
yaitu suatu partikel yang beratnya kira-kira sama dengan berat proton, tetapi
tidak bermuatan listrik. Dengan penemuan Chadwik para ahli berpendapat bahwa
inti atom terdiri dari sejumlah proton dan neutron. Jumlah proton (Z) sama
dengan jumlah elektron mengelilingi inti. Jika jumlah neutron dinyatakan dengan
N maka seluruh nukleon (partikel inti) dapat dinyatakan sebagai berikut:
Inti suatu atom misalnya X, jumlah proton/elektronnya Z, dan
jumlah nukleonnya A maka inti atom X dapat dinyatakan:
atau
B.
Radioaktivitas
dan Radioaktif
Radioaktivitas adalah
pemancaran sinar-sinar radioaktif secara spontan dengan disertai peluruhan inti
atom menjadi inti yang lain. Ernest
Rutherford melakukan percobaan dalam rangka studinya mengenai radioaktif. Ia
menempatkan sedikit radium di dasar sebuah kotak kecil dan timah hitam
(timbel). Ia memperhatikan sinar-sinar yang dipancarkan dari kotak karena
adanya pengaruh sebuah medan magnetik kuat yang berarah tegak lurus terhadap
arah rambat radiasi ketiga sinar yang dipancarkan oleh radium. Dia mendapati
bahwa berkas sinar terpisah menjadi tiga komponen. Dengan memperhatikan arah
sinar yang dibelokkan, dia menyimpulkan bahwa komponen sinar yang tidak di
belokkan adalah tidak bermuatan (sinar γ), komponen sinar yang dibelokkan ke
kanan adalah bermuatan positif (sinar α), sinar yang dibelokkan ke kiri adalah
bermuatan negatif (sinar β).
1)
Sinar Alpha (α)
|
Gambar 7. Sinar-sinar dalam radiasi
|
Peluruhan alpha adalah bentuk radiasi
partikel dengan kemampuan mengionisasi atom sangat tinggi dan daya tembusnya
rendah. Pertikel alpha terdiri atas dua buah proton dan dua buah netron yang
terikat menjadi suatu atom dengan inti yang sangat stabil, dengan notasi atom
atau
Setelah
partikel alpha diradiasikan , massa inti atom akan turun kira-kira sebesar 4
sma, karena kehilangan 4 partikel. Nomor atom akan berkurang 2, karena
hilangnya 2 proton sehingga akan terbentuk inti atom baru yang dinamakan inti
anak. Pada peluruhan-α berlaku
a) hukum
kekekalan nomor massa : nomor massa (A) berukuran 4 dan
b) hukum
kekekalan nomor atom: nomor atom (Z) berkurang 2
Dalam peluruhan –α berlaku persamaan peluruhan
Dalam peluruhan –α berlaku persamaan peluruhan
contoh :
Reaksi peluruhan alpha dapat ditulis sebagai
Energi kinetik Q yang dilepaskan jika
partikel alfa dipancarkan oleh inti berat. Rumusnya adalah
Energi
disintegrasi Q = (mi - mf - mx)
c2
Dengan mi
= menyatakan massa inti asal
mf
= massa inti-akhir dan
mx
= massa partikel
Kita dapatkan bahwa hanya pemancaran alfa
partikel saja yang secara energitik mungkin berlangsung; modus peluruhan yang
lain memerlukan energi yang disediakan oleh sumber luar inti. Energi
disintegrasi yang teramati dalam peluruhan alfa sesuai dengan harga ramalan
yang berlandaskan pada masa nuklir yang terlibat.
Energi kinetic Kα dari partikel alfa
yang dipancarkan tidak pernah tepat sama dengan energi disintegrasi Q, karena
kekekalan momentum mengharuskan inti bergerak mundur (rekoil) dengan energi
kinetic kecil, ketika partikel alfa terpancar.Mudah ditunjukkan bahwa, sebagai
akibat kekekalan energi Kα berhubungan dengan Q dan nomor massa A dari inti
semula melalui hubungan.
Energi
partikel alfa Kα ≈
Walaupun peluruhan alfa tidak dapat
diterangkan berdasarkan penalaran memakai fisika klasik, mekanika kuantum
menyediakan keterangan yang berlangsung. Kenyataannya, teori peluruhan alfa
dikembangkan secara bebas oleh Gamow dan oleh Gurney bersama Condon dalam tahun
1928, dan disambut orang sebagai suatu bukti keampuhan dari mekanika kuantum.
Dalam pasal berikut kita akan dapatkan bahwa sekalipun hanya pemecahan
sederhana dari persoalan lolosnya partikel alfa dari inti menimbulkan hasil
yang cocok dengan eksperimen.
Pengertian
dasar dari teori ini ialah :
- Partikel alfa bias ada sebagai suatu partikel di dalam inti.
- Partikel semacam ini terus-menerus dalam keadaan gerak dan dibatasi geraknya hanya dalam inti oleh rintangan potensial yang melengkunginya.
- Terdapat peluang kecil tetapi tertentu untuk partikel ini melewati rintangan ini (walaupun tinggi) setiap kali terjadi tumbukan dengannya.
Jadi
peluang peluruhan tiap satuan waktu λ dapat dinyatakan sebagai berikut :
Konstanta
peluruhan λ = vT
Dengan v menyatakan banyaknya tumbukan
per detik antara partikel dengan dinding perintang dan T menyatakan peluang
partikel itu untuk menembus rintangan tersebut. Jika kita anggap pada setiap
saat hanya sebuah partikel alfa yang dapat lolos dari inti seperti itu dan
partikel itu bergerak bolak-balik sepanjang diameter nuklir,
Frekuensi tumbukan v = v/2R₀
Dengan v menyatakan kecepatan
partikel-alfa ketika partikel itu meninggalkan inti dan R₀
jari-jari nuklir. Umumnya harga v dan R₀
adalah 2 x 107 m/s dan 10 -14 m, sehingga
V
≈ 1021 s -1
2)
Sinar
Beta (β)
Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif.
Sinar beta merupakan berkas elektron yang berasal dari inti atom. Partikel beta yang
bemuatan-l e dan bermassa 1/836 sma. Karena sangat kecil, partikel beta
dianggap tidak bermassa sehingga dinyatakan dengan notasi . Energi sinar beta
sangat bervariasi, mempunyai daya tembus lebih besar dari sinar alfa tetapi
daya pengionnya lebih lemah. Sinar beta paling energetik dapat menempuh sampai
300 cm dalam uadara kering dan dapat menembus kulit.
|
Gambar 8.
|
Energi electron yang teramati selama peluruhan beta dari
nuclide tertentu didapatkan. Bervariasi secara malar (continue) dari 0 hingga
harga maksimum Kmaks yang merupakan karakterisktik nuklidenya. Dalam
setiap kasus, energy maksimumnya ialah:
Yang
dibawa oleh elektron peluruhan sama dengan energi setara dari beda massa antara
inti-induk dan inti anak. Hanya saja, sangat jarang electron didapatkan
terpancar dengan energy Kmaks. Momentum linear dan momentum sudut
didapatkan tidak kekal dalam peluruhan beta. Dalam peluruhan beta nuclide
tertentu arah electron yang terpancar dari inti recoil dapat diamati, ternyata
arah tersebut tidak selalu tepat berlawanan seperti yang diramalkan oleh hokum
kekekalan momentum linear.
Radiasi beta dapat berupa pemancaran sebuah elektron
disebut peluruhan beta minus (ß- ), dan pemancaran
positron disebut sebagai peluruhan beta plus (ß+ ).
Peluruhan
beta minus (ß- ) disertai dengan pembebasan sebuah neutrino
(v) dan dinyatakan dengan persamaan peluruhan.
Elektron yang dipancarkan dalam peluruhan ini bukanlah elektron orbital (elektron yang bergerak mengelilingi inti) melainkan elektron yang ditimbulkan oleh inti atom itu sendiri dari energi yang tersedia di dalam inti. Hadirnya elektron (ß- ) dan (ß+ ) di dalam inti melalui proses.
Untuk
peluruhan ß+, dimana sebuah positron dipancarkan,
1. sebuah netron memancarkan positron dan sebuah neutrino (v)
2. sebuah proton memancarkan sebuah netron dan sebuah neutrino :
Spesifikasi peluruhan beta plus adalah adanya pemberian energi dalam proses “penciptaan” massa, karena massa netron (sebagai inti anak) ditambah massa positron dan neutrino lebih besar daripada massa proton (sebagai inti induk).
3)
Sinar
Gamma (γ)
Sinar gamma adalah radiasi elektromagnetek berenergi
tinggi, tidak bermuatan dan tidak bermassa. Sinar gamma dinyatakan dengan
notasi . Sinar gamma mempunyai daya tembus. Selain sinar alfa, beta, gamma, zat
radioaktif buatan juga ada yang memancarkan sinar X dan sinar Positron. Sinar X
adalah radiasi sinar elektromagnetik
Peluruhan gamma merupakan radiasi
gelombang elektromagnetik dengan energi sangat tinggi sehingga memiliki daya
tembus yang sangat kuat. Sinar gamma dihasilkan oleh transisi energi inti
atomdari suatu keadaan eksitasi ke keadaan dasar. Saat transisi berlangsung
terjadi radiasi energi tinggi (sekitar 4,4 MeV) dalam bentuk gelombang
elektromagnetik.
Sinar
gamma bukanlah partikel sehingga tidak memiliki nomor atom (A=0) maka dalam
peluruhan sinar-γ tidak dihasilkan inti atom baru. Sebuah peluruhan gamma ke keadaan dasar dapat dituliskan
secara simbolik sebagai,
Sebagian besar inti yang tereksitasi
yang mengalami peluruhan gamma mempunyai waktu paruh yang sangat kecil sehingga
tidak terukur yang berorde sekitar
,
jadi sangat pendek dibanding dengan waktu paruh keadaan-keadaan eksitasi
elektron.
Sebuah
inti dapat berada dalam keadaan ikat yang energinya lebih tinggi daripada
keadaan dasar ,seperti juga atom bisa berada dalam keadaan seperti itu. Inti
tereksitasi diberi tanda bintang setelah lambang yang biasa dipakai , misalnya
*.Inti tereksitasi kembali ke keadaan
dasar denganmemancarkan foton yang energinya bersesuaian dengan perbedaan
energi antara berbagai keadaan awal dan keadaan akhir dalam transisi yang
bersangkutan. Foton yang dipancarkan oleh inti daerah energinya berbeda-beda
hingga mencapai beberapa MeV dan secara tradisional disebut sinar
gamma.
Sebagai
alternatif lain dari peluruhan gama , dalam beberapa kasus inti tereksitasi
dapat kembali ke keadaan dasar dengan memberikan energi eksitasinya ke salah
satu elektron orbital di sekelilingnya .
Kita dapat membayangkan proses yang dikenal sebagai konversi internal ini sebagai sejenis efek fotolistrik dimana
sebuah foton nuklir diserap oleh elektron atomik;lebih cocok dengan eksprimen
jika kita menganggap konversi internal menyatakan transfer langsung energi
eksitasi dari sebuah inti ke sebuah elektron. Elektron yang terpancar memiliki
energi kinetik sama dengan energi eksitasi nuklir yang hilang dikurangi energi
ikat elektron itu dalam sebuah atom.
Sinar-sinar radioaktif memiliki karakteristik yang unik
dan berbeda satu sama lainnya, walaupun berasal dari sumber yang sama. Tabel
berikut merupakan kumpulan karakteristik sinar-sinar radioaktif yang
dikumpulkan dari pembahasan sebelumnya.
|
Tabel 1. Karakteristik sinar
|
C.
IONISASI,
JENIS, DAN ENERGI RADIASI
1.
Ionisasi
Energi
radiasi dapat mengeluarkan elektron dari inti atom, sisa atom ini menjadi
muatan positif dan disebut ion position. Elektron yang dikeluarkan itu dapat
tinggal bebas atau mengikat atom netral lainnya dan membentuk ion negatif.
Peristiwa pembentukan ion positif dan ion negatif dinamakan ionisasi. Ionisasi
ini penting sekali untuk diketahui oleh karena melalui proses ini jaringan
tubuh akan mengalami kelainan atau kerusakan pada sel-sel tubuh. Ionisasi di
udara dapat dipakai sebagai dasar sistem pengukuran dosis radiasi.
2. Jenis Radiasi
Tidak
semua radiasi dapat menimbulkan ionisasi. Berdasarkan ada tidaknya ionisasi
maka radiasi dibagi dalam 2 kategori yaitu:
a. Radiasi
yang tidak menimbulkan ionisasi.
1)
Sinar ungu ultra.
2)
Sinar merah infra.
3)
Gelombang ultrasonik.
Jenis gelombang/sinar-sinar ini biasanya
dipakai pada bagian/unit pusat rehabilitasi dan tidak ada di bagian
radioterapi, kecuali gelombang untrasonik dipakai di unit rontgen dengan tujuan
diagnostik.
b. Radiasi
yang dapat menimbulkan ionisasi.
1)
Sinar alfa.
2)
Sinar beta.
3)
Sinar gamma.
4)
Sinar X.
5)
Proton.
3. Energi Radiasi
Radiasi mempunyai energi. Menurut
Max Planck (1900) pertukaran energi antara radiasi dan materi tidak terjadi
secara kontinyu, melainkan pertukaran energi berlangsung melalui satuan energi
yang disebut kwantum. Kwantum energi radiasi (E) suatu gelombang
elektromagnetis (sinar gamma, sinar X) sama dengan konstanta dikalikan dengan
frekuensi radiasi maka dapat dinyatakan dalam rumus:
E(erg)
= h x f
E(erg)
= energi radiasi dalam arg.
h
= konstanta Planck = 6,62 x 10-27 erg detik.
f
= frekuensi radiasi.
dan:
f
=
C
= kecepatan gelombang elektromagnetis = 3 x 1010 cm detik.
λ
= panjang gelombang.
Maka:
E
= h x
Oleh
karena h dan C konstan, maka energi radiasi berbanding terbalik dengan panjang
gelombang; makin besar energi radiasi maka makin pendek panjang gelombang dan
sebaliknya.
D. Keuntungan
Dan Kerugian Radiasi Dalam Kehidupan
1. Kuntungan
a. Bidang
Kedokteran
Pemanfaatan
radioisotop di bidang kedokteran meliputi sterilisasi, diagnosis serta terapi atau pengobatan penyakit tertentu. Salah satu
teknik diagnosis yang menggunakan radioisotop adalah diagnosis kelainan fungsi
kelenjar gondok (tiroid). Deteksi
kelainan fungsi tiroid dilakukan dengan teknik perunut menggunakan isotop I-131
(yodium). Tiroid merupakan kelenjar yang berperan penting dalam distribusi
yodium, zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Terlebih dahulu pasien meminum
air yang mengandung sedikit isotop I-131. Sekitar dua jam kemudian radiasi yang
dipancarkan oleh I-131 diukur. Hasi pengukuran ini akan menunjukkann persentase
sodium iodida yang telah dapat diproses oleh kelenjar tiroid. Prinsip yang sama
digunakan pula untuk menyelidiki aliran darah (menggunakan isotop Cr-51) dan
fungsi ginjal (menggunakan renograf).
Radioisotop juga
digunakan untuk pemotretan organ dalam tubuh pasien melalui teknik PET (Position Emission Tomography) dan CT (Computed Tomography). Pada massa
sekarang, pemanfaatan sumber radiasi sinar gamma cobalt-60 untuk teknik
sterilisasi semakin dikembangkan karena sangat efektif untuk membasmi mikroba
pada suhu kamar.
Keuntungan
teknik sterilisasi radiasi antara lain daya sterilisasi yang tinggi (selama
bahan pengemas tidak rusak), tidak menaikkan suhu selama proses sehingga sangat
baik untuk bahan yang tidak tahan panas, bahan disterilkan dalam bentuk kemasan
siap pakai, tidak meninggalkan residu dan tidak menyebabkan polusi.
Alat kesehatan
yang umum disterilkan dengan radiasi yaitu pembalut penyerap, kapas dan kasa,
pembalut parafin, pembalut obat, pembalut persalinan, wadah plastic, alat
karet, aluminium, alat suntik, masker muka, cawan petri, benang bedah, pita
obat (band aid), dan perlengkapan
transfusi.
b. Bidang
Pertanian
Teknik radiasi
menghasilkan varietas baru tanaman pangan berupa varietas padi sawah Atomita-2
(1983) dan varietas kedelai Muria (1987). Varietas padi sawah Atomita-2 selain
memiliki produksi yang tinggi juga mempunyai sifat toleransi terhadap
salinitas. Varietas kedelai Muria memberikan hasil yang lebih baik daripada
varietas induknya.
Selain padi
Atomita dan kedelai Muria, hasil kegiatan pemuliaan tanaman dengan radiasi juga
telah menghasilkan sejumlah galur mutan kacang hijau dan padi lahan kering
(padi gogo).
c. Bidang
Teknologi Pangan
Masalah utama
yang dihadapi oleh produk bahan pangan Indonesia adalah tingginya kerusakan
pasca panen, termasuk akibat pencemaran mikroorganisme dan seangga perusak.
Untuk mengatasinya perlu dilakukan pengawetan bahan makanan yang di antaranya
menggunakan radiasi sinar gamma dari isotop C0-60.
Radiasi juga dapat dimanfaatkan untuk aspek lain, misalnya membunuh
serangga atau hama gudang penyimpanan, menunda pentunasan umbi-umbian, menunda
kematangan berbagai jenis buah, mempercepat keempukan sayuran kering dan
kedelai, serta membasmi cacing pita dan cacing gelang.
d. Bidang
Peternakan
Pemanfaatan radioisotop
dalam bidang peternakan misalnya pada pembuatan radiovaksin koksidiosis ayam
yang dihasilkan oleh radiasi ookista.
Sistem vaksinasi ternak cukup efektif untuk mencegah penyakit tertentu dan
mengurangi tingkat kematian ternak.
e. Bidang
Industri
Teknik radiasi
sudah diterapkan dalam pelapisan kayu di berbagai Negara industry seperti
Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang. Dengan cara ini mutu kayu dapat
ditingkatkan karena permukaan kayu menjadi lebih keras, tahan panas, tahan
goresan, tahan zat kimia tertentu dan penampilannya lebih menarik.
Radioisotop juga
dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran pipa. Isotop radioaktif dimasukkan
dalam aliran cairan pada pipa yang tertanam di dalam tanah. Selanjutnya di
permukaan tanah sepanjang jalur pipa dilakukan pengukuran aktivitas radioaktif.
Jika terdapat lonjakan aktivitas radioaktif di suatu tempat, di situlah
kemungkinan terjadi kebocoran.
f. Bidang
Penelitian Dasar dan Terapan
Ada beberapa
bidang penelitian dasar yang memanfaatkan radiasi, misalnya teknik spektroskopi
atom dan NMR (nuclear magnetic resonance).
Isotop-isotop yang digunakan diproduksi dalam sebuah reaktor nuklir. Di
Indonesia telah terdapat reaktor nuklir, di antaranya adalah Reaktor Kartini,
Reaktor Swabessy, dan Reaktor Triga Mark II.
g. Bidang
Arkeologi
Di bidang
arkeologi dan sejarah, radioisotop dimanfaatkan untuk menentukan umur fosil. Dalam
hal ini isotop yang digunakan adalah karbon-14 (14C).
2.
Kerugian
Apabila ada makhluk
hidup yang terkena radiasi atom nuklir yang berbahaya biasanya akan terjadi
mutasi gen karena terjadi perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang
merusak sel-sel tubuh makhluk hidup baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan atau
binatang.
Radiasi
Sinar Ultraviolet Paparan UV bisa berakibat: iritasi mata (conjungtivitis
fotoelektrika), mata berair/lakrimasi dan penderita menghindari paparan cahaya.
Tetapi gejala ini akan kembali normal dalam beberapa hari. Kulit merah terbakar
(erythema). Pigmen kulit dapat melindungi dari sinar UV. Pada paparan kronis UV
dapat merusak struktur kulit dan menyebabkan kulit mengalami penuaan dini dan
kanker kulit. Pekerja yg berisiko : Pekerja dalam ruang dimana lampu UV
digunakan untuk membunuh bakteri : perawat, tukang daging, penjamah makanan,
tukang daging, pekerja pabrik obat & tembakau dan tukang las. Radiasi Sinar
infra merah Menyebabkan katarak pada lensa mata.
Berikut
efek serta akibat yang ditimbulkan oleh radiasi zat radioaktif pada
umat manusia seperti berikut di bawah ini :
a. Pusing-pusing
b. Nafsu makan berkurang atau hilang
c. Terjadi diare
d. Badan panas atau demam
e. Berat badan turun
f. Kanker darah atau leukimia
g. Meningkatnya denyut jantung atau nadi
h. Daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang penyakit
akibat sel
darah putih yang jumlahnya berkurang
darah putih yang jumlahnya berkurang
E.
Proteksi Dari Radiasi
Salah
satu usaha yang dialakukan oleh International Commision on Radiological
Protection (ICRP) untuk menghindari bahaya radiasi maka ditentukannya suatu
dosis maksimum yang dapat diperkenankan sebagai pedoman dalam proteksi radiasi
yaitu “Maximum Permisseble Dose (MPD). Nilai MPD ini telah beberapa kali
mengalami perubahan. Oleh karena proteksi radiasi tidak saja ditinjau dari
sudut somatic, akan tetapi dari sudut efek genetic pula. Penilalian terakhir
mengenai dosis maksimum yang diperkenankan dilakukan pada tahun 1965 dan
hasilnya telah dimuat dalam ICRP Publication 9, 1966.
Dosis maksismum yang diperkenankan bagi pekerja
radiasi berbeda dengan masyarakat umum. Bagi masyarakat umum tidak lagi memakai
MPD akan tetapi diganti dengan dosis limit (batas dosis). Maksud dari pada
pemakaian dosis limit ini untuk memperoleh standarisasi dalam pelaksanaan
proteksi pada pemakaian sumber-sumber radiasi, sehingga masyarakat tidak
mungkin mendapatkan radiasi yang membahayakan. Nilai batas dosis untuk
masyarakat ialah 1/10 dari pada nilai MPD bagi pekerja radiasi
Proteksi
radiasi bagi orang-orang yang berhubungan langsung dengan sumber pengion dibagi
dalam 3 golongan :
1. Proteksi
radiasi terhadap penderita dengan terapi radiasi.
2. Proteksi
radiasi terhadap pekerja diagnostic radiologi.
3. Proteksi
radiasi terhadap kedokteran nuklir.
1.
Proteksi
radiasi terhadap penderita dengan terapi radiasi
Pada terapi
dosis tertentu yang diberikan kepada penderit, jaringan sehat sekitarnya perlu
mendapat perlindungan sebaik-baiknya. Pada penyinaran sekitar mata, maka mata
harus harus mendapat perlindungan dengan menggunakan timah hitam “lead eye
shield” agar lensa mata terhindar dari kerusakan.
Pada penyinaran
terhadap tumor yang tidak ganas dan terhadap anak-anak perlu hati-hati dengan
jumlah dosis yang diberikan, dan jangan berulang kali mendapat penyinaran oleh
karena radiasi bersifat karsinogen/unsure penyebab kanker.
2.
Proteksi
radiasi terhadap pekerja diagnostic radiologi.
Pekerja
diagnostic radiasi radiologi umumnya mendapat radiasi dari tabung sinar X.
Untuk menghindari radiasi dari sinar X dapat dibuat sekecil mungkin ± 50% tanpa
menggangu informasi medis yang diperlukan.
Untuk
penyinaran spinal lumbo sakralis melalui studi “Natiowide Evaluation of X ray
Trends (NEXT)” berkisar antara 50 sampai 55.000 m R.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
demi proteksi terhadap pekerja adalah :
a. Filter
= filtration
b. Kollimator
c. Kwalitas
film
d. Distribusi
dari hasil penyinaran.
a. Filter
Penyaringan/filter
ini sangat berguna untuk mengurangi intensitas sinar X yang dihasilkan oleh
tabung sinar X. Umumnya setiap unit sinar X paling tidak harus mempunyai filter
Al setebal 3 mm. Apabila tidak mempunyai filter maka energy sinar X yang rendah
yang seharusnya dihilangkan oleh filter akan mencapai pada tubuh dengan akibat
tubuh akan lebih banyak menerima radiasi
yang tidak berguna.
b. Kollimator
Merupakan
suatu cela yang berfungsi mengatur luas (area) dari berkas sinar X yang
diperlukan. Menurut NEXT perbandingan antara luas berkas sinar dengan luas
lempeng film yang ideal adalah lebih kecil dari satu. Oleh sebab itu, untuk
proteksi radiasi, collimator harus diatur agar berkas sinar X yang diterima
oleh tubuh secukupnya saja.
c. Kualitas Film
Kualitas
film mempunyai kaitan dengan proteksi radiasi. Apabila menggunakan film yang
kurang sensitive (kualitas rendah) akan diperoleh gambaraan yang kurang jelas.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas diperlukan sinar X yang lebih keras,
sehingga kemungkinan menimbulkan radiasi semakin besar.
d. Distribusi dari hasil luas penyinaran
Ini
dapat diperoleh dengan mengukur total radiasi pada penderita. Hasil luas
penyinaran berkaitan dengan perkalian penyinaran dalam rontgen dan luas
penyinaran dalam cm2 (Rap). Selain apa yang disebut di atas setiap
pegawai yang berkecimpung dengan sinar X maupun operator harus memakai lead
apron dan berdiri di belakang dari arah sinar. Harus memakai film badge
sehingga jumlah dosis yang diterima dapat diketahui dan apabila ada kesalahan
dan kelalaian dalam proteksi dapat segera diselidiki pula. Petugas dilarang
memegang tabung radium atau jarum radium dengan tangan, melainkan harus
menggunakan alat pemegang khusus yaitu long handled forcep. Tidak
diperkenanakan menggunakan sarung tangan berlapis timah hitam pada waktu
bekerja dengan radium oleh karena sinar gamma hasil pancaran radium dengan
mudah dapat menembusnya.
Catatan :
Menurut
humum kwadrat terbalik “Inverse Square Law”, dosis radiasi berbanding langsung
dengan jumlah radium serta lamanya waktu bekerja dan berbanding terbalik dengan
jarak radium. Hukum ini berlaku bagi mereka-mereka yang menggunakan radium
untuk radiasi.
Pada
penderita dengan terapi internal radiation yaitu yang menggunakan radioisotop
yang dimasukkan ke dalam tubuh yang sakit berhubungan dengan petugas/perawat
yang merawatnya. Perlu melakukan usaha/tindakan untuk mencegah radiasi terhadap
petugas. Usaha itu meliputi:
1) Penderita
harus tinggal dalam satu ruangan khusus.
2) Perawat
jangan terlalu lama berdekatan dengan sumber radiasi.
3) Sewaktu membersihkan penderita jangan terlalu
lama berdekatan dengan sumber radiasi
4) Memakai
pakaian pelindung
5) Pasien-pasien
yang secara permanen/menetap ditanamkan ke dalam tubuhnya bahan radioaktif atau
yang menerima dosis terapi 131I harus tetap berada di rumah sakit
sampai intensitas radiasi di sekitar pasien itu mencapai tingkat keselamatan.
6) Kotoran
penderita harus ditampung pada suatu tempat dan dibuang pada tempat yang
tertentu.
3.
Proteksi
radiasi terhadap kedokeran nuklir
Pada waktu ini
penggunaan radioisotope di bidang kedokteran nuklir telah banayak sekali di
samping penggunaan sinar X sehingga perlu sekali mengetahui cara-cara proteksi.
Untuk mencapai tujuan proteksi radiasi ini, seorang dokter dalam bidang kedokteran
nuklir harus benar-benar mengetahui :
a) Penggunaaan
zat radiofarmasi secara tepat.
b) Penderita
bagaimanakah yang layak mendapat terapi radioisotope.
c) Memberikan
obat radioaktif pada penderita yang benar-benar memerlukan
d) Memastikan
bahwa instrument deteksi bekerja secara baik dan benar.
F. Radioterapi
Dalam
melakukan radioterapi perlu mengetahui metoda apa yang boleh dipergunakan.
Jenis metoda radioterapi ada 3 yaitu:
1. Radioterapi jarak jauh (Megavoltage
therapy)
2. Radioterapi jarak dekat (Brachy therapy)
3. Penggunaan radioisotop untuk terapi
secara sistemik dalam tubuh
1.
Terapi jarak jauh
Sebelum
tahun 1940 ahli radioterapi hanya sedikit pilihan dalam menggunakan sumber
radiasi untuk pengobatan kanker. Banyak memilih unit orthovoltage sinar X yang berpotensial
250 KV kurang dalam melakukan terapi luar (jarak jauh)
Setelah
perang dunia kedua, Kerst mengembangkan betraton yang ipergunakan untuk
menghasilkan energi tinggi sinar X untuk terapi radiasi dan terbukalah lapngan
radiasi super voltage serta terapi megavoltage. Megavoltage terapi merupakan
penggunaan bertraton untuk terapi jarak jauh yang berarti sumber radiasi berada
diluar tubuh dan diberikan pada waktu-waktu
tertentu.
Pada
tahun 1951 Harold Johns untuk pertama kalinya membuat unit terapi **Co di
Kanada. Unit terapi * Co disebut pula Cobalt teleterapi dan Cobalt bomb unit.
Cobalt bomb unit ini didesain agar dapat berotasi mengelilingi penderita dan
dilengkapi engan alat penyerap radiasi (metal beramstop) tujuan dari alat
penyerap radiasi ini agar radiasi yang melewati penderita akan diserap dan
mengurangi ketebalan lapisan pelindung yang biasa digunakan pada dinding tembok
Pada
tahun 1970 terciptanya pesawat linacs (Linear Accelarator) yang dapat
memancarkan intensitas radiasi setiap saat.
Ada 3 faedah pada terapi megavoltage
:
1. Dosis
maksimum terjadi dibawah kulit. Hubungan dosis rendah pada kulit dari energi
tinggi sinar X atau sinar gamma yaitu rasa nyeri yang terjadi selama pengobatan
2. Energi
tinggi terjadi secara komplit didaerah efek kompton dan tidak memberi dosis
tinggi pada tulang,tidak sama halnya dengan sinar X 250 KV
3. Penetrasi
sangat dalam sehinngga mampu mengobati tumor-tumor yang letaknya jauh didalam tubuh
2. Radio
terapi jarak dekat
Radio terapi jarak dekat diartikan
bahwa sumber radiasi terletakdipermukaan atau didalam tumor. Itu dimulai sejak
tahun 1904 dimana madame curie dalam teori dokternya menuliskan bahwa beliau
menempatkan kapsul radium pada lengan selama beberapa jam dan terjadi luka yang
berbulan-bulan baru sembuh ternyata ulkus ini tedak superfisial/permukaan kulit
saja melainkan mengenai jaringan tulang bagian dalam.
Dunlos dirumah sakit St Louis Paris
pertama kali menggunakan radium untuk mengobati penyakit kulit dengan hasilyang
memuaskan. Pemakaian menggunakan radium terapi semakin lama semakin luas
seperti inplantasi tumor dengan radium (Abbe, 1905); aplikasi radium
intrauterine untuk mioma uteri (Oudin dan Verchere , 1906); inplantasi tuumor
dengan radon (Janeway, 1908). Pada tahun 1912 Forcell mengumumkan hasil
penyinaran 40 kasus karcinoma partio uteri dengan radium. Kemudian care
aplikasi radium disempurnakan oleh Heyman dan dikenal sebagai tehnik Stockholm.
Pemakaian radium dalam bentuk jarum dan tabung untuk aplikasi lokal dan dalam
bentuk “bomb” radium untuk terapi jarak jauh.
Pada
pemakaian radium memberikan keuntungan yaitu walaupun memberi dosis yang besar, hanya sekecil mungkin
radiasi yang timbul pada jaringan sekitarnya, sedangkan kerugian yang timbul
pada pemberian radium, dosis yang paling kuat hanya disekitar sumber, dan
memberi radiasi pada orang lain yang merawat penderita.
Suatu
alternatif lain yaitu menggunakan radionuclide dengan umur paruh yang lebih
pendek dalam bentuk biji-biji material radioaktif yang ditanam secara permanen
a. Gas
radon radioaktif 22Rn,
mempunyai umur paruh 3,8 hari dan merupakan anak radium 226Ra. Gas
radon didapatkan dengan meletakkan radium dalam suatu larutan, lalu gas radon
yang terjadi dimasukkan dalam tabung emas murni (panjang 3 mm, diameter 1 mm).
Biji radon ini ditanam ke dalam tumor secara permanen, setelah 38 hari (10xumur
paruh) radioaktifitasnya tinggal 0,1 % semula
b. Oleh
karena pembuatan gas radon sangat berbahaya, maka kini banyak digunakan
butir-butir emas radioaktif 198Au yang dibungkus platina atau emas stabil
dengan ukuran seperti tabung untuk biji gas radon.
c. Kadang-kadang
digunakan pula 125I.
Brachytherapy
yang memanfaatkan partikel beta yaitu
penggunaan Yttrium 98Y dengan umur paruh 64 hari. Ini merupakan anak
paruh/pecahan dari 90Sr yang umur paruhnya 28 tahun. Penggunaannya
dibidang opthalmologi dengan cara menempelkan ke mata selama waktu yang kurang
dari 1 menit.
Suatu
inti radioaktif buatan yaitu Californium 252Cf memberi emisi neutron
berkecepatan tinggi dengan sinar gamma. Saat ini sedang diselidiki kemungkinan
penggunaannya dalam radioterapi untuk ditanam pada tumor. Dalam kenyataannya 252Cf
memberi banyak keuntungan apabila dibandingkan dengan bahan lain yang hanya
bisa ditanam dan hanya mengeluarkan sinar gamma
b) Penggunaan
radioisotop untuk terapi secara sistemik dalam tubuh
Yang dimaksud dengan terapi secara
sistemik yaitu terapi radiasi dengan menggunakan zat radioaktif yang mengikuti
dalam peredaran darah dan akan mencapai sasaran yang dituju. Dalam hal ini
pernah menggunakan isotop 131I dan 32P untuk pengobatan.
1. Dengan
menggunakan 131I dosis 150-400 MBq (setara dengan 4-10 m Ci) untuk
pengobatan hiperthiroid. Dan dengan dosis 1-3 GBq (setara dengan 30-100 m Ci)
digunakan untuk pengobatan kanker thiroid
2. Suatu
emmisi beta yang murni dari 32P pernah dicoba untuk pengobatan
polisitemia vera. Efeknya yaitu mengurangi produksi sel darah merah.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Bioradasi adalah ilmu yang mempelajari radiasi dalam
tubuh makhluk hidup. Pengertian
radiasi Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi
bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda
lain. Apa yang membuat radiasi adalah bahwa energi memancarkan (yaitu, bergerak
ke luar dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber. geometri ini
secara alami mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik yang sama berlaku
untuk semua jenis radiasi
2. Unsur
inti atom yang mempunyai sifat memancarkan sinar-sinar disebut inti radioaktif.
3. Peristiwa pembentukan ion positif
dan ion negatif dinamakan ionisasi. Tidak semua radiasi dapat menimbulkan
ionisasi.
4.
Jenis-jenis radiasi : a. Radiasi sinar α b. Radiasi sinar β c. Radiasi sinar X
dan sinar γ d. Radiasi Neutron
5. Kegunaan
radiasi Dalam kedokteran Radiasi dan zat radioaktif digunakan untuk diagnosis,
pengobatan, dan penelitian. Dalam Komunikasi Misalnya, suara manusia dapat
dikirim sebagai gelombang radio atau gelombang mikro dengan membuat gelombang
bervariasi sesuai variasi suara. Dalam iptek Para peneliti menggunakan atom
radioaktif untuk menentukan umur bahan yang dulu bagian dari organisme hidup.
6. Kerugian Radiasi Sinar Ultraviolet
menyebabkan iritasi mata (conjungtivitis fotoelektrika), mata berair/lakrimasi
dan penderita menghindari paparan cahaya.radiasi Sinar α dari luar tubuh tidak
bisa menembus kulit, tapi bila emisinya masuk dalam tubuh & memproduksi
banyak pasangan ion dapat menyebabkan kerusakan lokal di kulit. Radiasi Sinar
Laser menyebabkan kerusakan retina & menyebabkan kebutaan,kelainan kulit. Radiasi
Sinar infra merah menyebabkan katarak pada lensa mata.
B.
Saran
Diharapkan
untuk kedepannya agar pembaca mencari referensi lain agar lebih lengkap
mengenai pembahasan bioradiasi. Karena untuk pembahan ini lumayan sulit untuk
menemukan referensinya. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembacanya.
DAFTAR
PUSTAKA
Beiser,
Arthur.-. Konsep Fisika Modern.Jakarta: Erlangga
Gabriel, J.F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC
http://id.wikipedia.org/wiki/radioaktivitas diakses pada
tanggal 08 Desember 2014
Ruwanto,
Bambang. 2007. Asas-asas Fisika 3B
Sekolah Menengah Atas Kelas XII Semester Kedua. Yogyakarta: Yudhistira
Ghalia Indonesia
Wirapsara.”Radiasi Dalam Kehidupan
sehari-hari”.www.indomp3z.(diakses tanggal 5 oktober 2011) Akhsanur.”
macam-macam radiasi.”http://dadang-saksono.blogspot.com diakses tanggal 08
Desember 2014